Gerakan Mahasiswa 'Milenial'


Dikala santernya 'bau' politk saat pandemik ini, saya teringat akan suatu peristiwa besar tahun lalu. Dimana terdapat lautan warna-warni yang mampu berbicara. Adanya sebuah kain membalut tubuh yang telah menjadi saksi bisu. Dan terdengarnya suara lantang berani yang menggemuruh di seluruh penjuru negeri.


Tahun lalu, demonstrasi bermunculan di berbagai kota di Indonesia. Muncul dengan sekumpulan 'pejuang' yang gagah dan berani, dengan menggunakan almamater kebanggaannya. Para mahasiswa ini, bersungguh-sungguh menentang beragam rancangan undang-undang. Mulai dari penolakan atas revisi UU KPK yang kala itu baru saja disahkan, penolakan atas RUU KUHP, sampai penolakan atas RUU Pertanahan. Termasuk juga tuntutan agar segera diproses secara hukum atas perusahaan yang secara nyata melakukan kejahatan ekologis. Mengakibatkan kebakaran hutan di Sumatera dan Kalimantan. Ini menandakan anak muda Indonesia masih sangat waras.

Jika kembali ke aksi demonstrasi yang dilakukan oleh mahasiswa di tahun 1998, peristiwa ini tak bisa kita lepaskan dan lupakan begitu saja. Pada tahun tersebut, terjadi krisis besar-besaran dari segi; ekonomi, sosial dan politik yang melanda pada saat rezim orde baru. Orang-orang mengantri panjang demi mendapatkan sembako (9 bahan kebutuhan pokok) seperti; beras, minyak, dan kebutuhan pokok sehari-hari lainnya. Ini terjadi hampir di seluruh penjuru daerah Indonesia. Kala kelas menengan di Jakarta yang pada awalnya relatif bersikap netral, ujung-ujungnya mulai resah dan ikut berteriak menghadapi relitas tersebut. Sistem kapitalisme yang dibangun oleh rezim orde baru selama kurang lebih 32 tahun, akhirnya mengalami krisis dan kebangkrutan besar di hadapan rakyatnya.



"Hanya ada 2 pilihan, menjadi apatis atau mengikuti arus. Tetapi aku memilih untuk jadi manusia merdeka."
 Soe Hok Gie



Demonstrasi mahasiswa juga pernah terjadi pada awal tahun 1966. Pada saat itu ribuan mahasiswa turun ke jalan melakukan aksi protes atas kondisi negara yang semakin memperihatinkan. Aksi protes ini berawal dari Gerakan 30 September 1965 atau yang lebih dikenal dengan G30S/PKI yang kemudian melahirkan orde baru. Gerakan ini dikenal dengan istilah Angkatan ’66.

Mulai tahun 1970, berbagai kritik terhadap orde baru mulai bermunculan. Hingga akhirnya terjadi gerakan mahasiswa 1998 yang menuntut reformasi dan dihapuskannya KKN (Korpsi, Kolusi dan Nepotisme).


Dimana mahasiswa milenial? Apakah mereka tidak ikut demo? Mahasiswa kok apatis!

Aksi demo mahasiswa besar-besaran terjadi pada 23 September 2019 di berbagai daerah di Indonesia. Namun adapula daerah lain yang lebih dulu melakukan demonstrasi ini. Aksi ini diwarnai dengan beragam poster berisi kalimat protes yang mudah dipahami, dicerna dan penuh humor. Penggunaan bahasa yang sederhana, menjadi ciri khas generasi milenial dan generasi Z. Sehingga terlihat santai dan lebih menarik. Berbeda dengan generasi sebelumnya yang menggunakan bahasa provokatif dan juga mengandung kritik pedas dan cenderung 'baperan'. Sangat menampilkan kesan politik yang bersifat serius dan kaku.

Generasi milenial sendiri merupakan orang yang lahir antara tahun 1980 hingga awal tahun 2000-an. Sementara generasi Z merupakan orang yang lahir antara tahun 1995 hingga tahun 2010. Bagi generasi saat ini, menyampaikan kritik tak harus dengan cara serius atau bahasa yang keras. Itu sebabnya mereka mengemas ungkapan dengan tingkat 'kerecehan' yang tinggi.

Gerakan mahasiswa sendiri tidak selalu tentang demo. Mahasiswa mempuyai cara sendiri dalam berjuang. Dan tentunya perjuangan tersebut tidak bisa disamakan dengan mahasiswa pada generasi sebelumnya. Contohnya saat terjadi bencana alam di Palu dan kebakaran hutan di Sumatera dan Kalimantan. Mahasiswa langsung bergerak melakukan penggalangan dana hampir merata di seluruh daerah. Hal ini disebabkan oleh cepatnya informasi yang beredar luar di media televisi maupun media sosial. Ini adalah suatu hal yang tidak pernah terjadi di masa Orde Baru. Dimana kebebasan berkumpul dan berpendapat amat sangat dibatasi.



“Le véritable amour est éternal, infini, toujours semblable à lui-même; il est égal et pur, sans démonstrations violents.” (Cinta sejati itu abadi, tak terbatas, selalu seperti dirinya sendiri; ia setara dan murni tanpa demonstrasi yang keras).
– Honoré Blanc



Para mahasiswa yang mengikuti aksi demo, mampu memanfaatkan ruang untuk membangun kreativitas. Aksi demo yang selama ini menimbulkan ketegangan, mereka hadapi dengan cara yang kreatif, ringan dan pesan dari poster yang mereka buat mampu dipahami maknanya. Hal ini membuktikan bahwa aksi demonstrasi tidak harus disampaikan dengan cara yang anarkis.



Tulisan ini hanya salah satu dari sekian banyak pendapat saya sebagai seorang mahasiswa. Banyak yang beranggapan mahasiswa seperti saya tidak memiliki banyak aksi nyata bagi masyarakat. Tidak semua dari mereka menjadi mahasiswa yang apatis dan tidak peduli tentang persoalan yang terjadi di sekitar. Mereka hanya menjalankan tugas mereka masing-masing dengan kesibukan masing-masing pula.



Harapan saya, generasi milenial dapat berkembang menjadi calon pemimpin bangsa di masa yang akan datang. Biarkan generasi milenial dan generasi Z berkreativitas dan berjuang dengan caranya masing-masing. Bagi saya pribadi, selama mereka melakukan hal-hal untuk kepentingan bersama, itu tidak menjadi masalah apapun bagi saya. Perbedaan cara berjuang, berfikir, dan beraksi tidak akan menjadi sebuah masalah yang berarti. Justru yang menjadi masalah adalah ketika tujuan perjuangan itu, tidak sama dan tidak sejalan lagi.



Dari saya, yang 'berjuang' di Semarang.



Komentar

Postingan Populer