Menulis itu candu, berhentilah!

Menulis memang sesuatu yang menyenangkan bagiku. Apalagi ketika aku bisa menulis dengan sebuah alasan dan maksud yang jelas. Ya, aku adalah orang yang selalu membutuhkan alasan untuk apapun yang bagi orang lain tidak beralasan. 

Simpelnya, bagaimana bisa kau melakukan sesuatu tanpa alasan? “menolong orang kan tanpa alasan”. Kebaikan. Kau pikir apa? Atau akan ada orang yang membantahku dengan berkata “cinta kan tidak perlu alasan”. Ada ribuan alasan kenapa kau bisa mencintai seseorang. Nyaman, tenang, bahagia, nyambung, dan sebagainya.


Ketika menulis menjadi sebuah hal yang menyenangkan, saat itu pula aku memahami bahwa hal yang bisa ku lakukan ketika aku ingin mengungkapkan sesuatu namun mulut ini sangat enggan berbicara adalah dengan tulisan. Ada beberapa ‘korban’ yang merasa tertusuk dengan kata-kataku. Entah lah, itu hanya sebuah tulisan. Alibiku.

Aku suka sekali menjadikan orang lain sebagai objek tulisanku. Entah temanku, sahabatku, keluargaku, orang asing, dan tentunya nomor satu adalah kekasihku (saat itu). Aku adalah orang yang sering meminjamkan telinga secara tiba-tiba jika ada yang membutuhkannya. Tidak heran, banyak yang selalu mencariku ketika mereka ingin meluapkan keluh kesahnya yang sering kali berujung “kamu benar”. Ya, wanita selalu benar bung. Argumenku.


Kau pasti bertanya-tanya tentang tulisan apa yang sebenarnya aku tulis. Puisi, sajak, narasi, atau segala hal yang orang jaman kini menyebutnya “indie / anak senja”. Sejatinya aku pun bingung itu stigma dari mana dan kenapa orang bisa salah kaprah mengartikan kata ‘indie’. Aku malas menjelaskannya. 


Ingin tahu contohnya?

Begini,


Sebuah tanya tersirat dalam sebuah pertanyaan.

Yang tidak ada habisnya hingga titik darah penghabisan.

Orang bisa saja berubah jika ia memang ingin merubah.

Merubah hal tabu menjadi tabu.

Persetan ketika setan datang menggoda untuk menghancurkan segala hal.

Hal buruk yang jika dilakukan membuat keadaan semakin memburuk.

Lihat orang sekelilingmu yang sedang melihatmu.

Mereka bingung bagaimana mengatakan hal yang membingungkan ini.

Hal bodoh yang sedang kau lakukan dan membuat mereka tampak membodohi dirinya sendiri dengan melihatmu.

Segelintir orang lupa cara melupakan.

Hal kecil yang sebenarnya akan semakin mengecil.

Seperti kesalahan yang terus menerus disalahkan.

Membuat kebaikan terhapus perbaikan.

Egoisnya mereka melebihi pengegoisan manusia kejam.

Tanpa pandang bulu membuat pandangan seseorang tercengang akan kelakuannya.

Pengakuan dosa memang sulit dilakukan oleh pendosa.

Rela menahan malu daripada merelakan pengakuannya.

Hidup bisa berulang jika Tuhan mengijinkan penghidupan itu kembali.

Akui kesalahan memang tak semudah menyalahkan.

Seakan sikapmu yang paling benar padahal penyikapanmu yang paling buruk.

Jika ancaman mati mampu mematikan rasa malumu, semoga Tuhan melaksanakan apa yang seharusnya dilaksanakan.

Agar membuatmu sadar akan segala kesalahanmu, dan menyadarkan orang lain agar tidak melakukan kesalahan sepertimu.


Paham maksudnya?

Aku lihat nampaknya kau sedikit mengerutkan dahi.


Aku hanya bisa memberikan jawaban begini:

Aku menulis itu disaat aku kesal dengan seorang “ketua” yang merasa memiliki segalanya dengan jabatannya itu. Aku marah tapi aku tidak ingin menimbulkan pertikaian. Aku wanita, tapi aku bisa diadu jika kau ingin mengajakku adu fisik alias baku hantam.



Atau kau ingin tahu bagaimana ketika aku ‘bucin’?

Begini,


Bagaimana bisa aku tertidur lelap jika bayang-bayangmu seolah berkata;

“aku selalu disini bersamamu, kau masih ingin memejamkan matamu?”


Sangat menggelikan.



Ketika aku menulis, seolah aku mampu meluapkan apapun yang ingin aku luapkan. Sangat aneh memang. Tapi itulah aku. Kendati demikian, aku sering merasa bersalah dengan tulisanku. Aku pernah menjadikan beberapa orang terdekatku untuk ku jadikan objek tulisanku secara terus menerus. Bahkan tanpa minta izin sedikitpun. Dan maafkan aku jika aku sangat enggan menunjukkan hasil tulisanku itu kepada kalian. Egois.

Seperti kalimat dalam blog ini:


"Jangan berhenti menulis hingga sejarah bosan menulis namamu."


Beberapa orang memuji tulisanku, padahal bagiku itu hanya sebatas tulisan. Tidak untuk diperjualbelikan atau untuk kepentingan semata. Hanya tulisan. Apa istimewanya? Hanya sebuah ungkapan isi hati atau keluh kesah, kenapa kau bilang bagus? Berlebihan.


Sekali lagi, aku ingin meminta maaf kepada siapapun yang pernah menjadi ‘objek’ dalam tulisanku. Apalagi yang sudah menjadi candu. Dari hubungan kita yang sangat baik bahkan sudah merenggang dimakan oleh praduga. Ah, kalian sangat berarti bagiku.



Jika kau sudah menemukan hal yang menyenangkan ketika menulis, berhentilah.

karena itu, candu!

Dari saya yang sedang kecanduan.



Komentar

Postingan Populer