Teruntuk kalian; Mengapa saya?


Pagi ini saya terbangun dengan seisi kepala penuh dengan berbagai pertanyaan. Tentang ketidakadilan yang ada dalam kehidupan ini. Terutama dalam kehidupan saya pribadi. Mengapa saya terlahir dari keluarga ini? Mengapa saya menjadi dewasa sebelum waktunya? Mengapa saya merasa memiliki tekanan batin yang sangat berat? Mengapa saya sangat takut untuk mengatakan semuanya? Dan lain sebagainya.

Saya tidak tahu apakah Anda pernah merasakan hal yang sama atau tidak. Karena saya tidak akan memukul rata atau merasa hanya saya yang merasakan ini. Dalam artian, kehidupan saya adalah yang terberat. Tidak.

Terlahir dari keluarga sederhana, membuat saya merasakan berbagai lika-liku serta luka. Ya, saya mempunya luka yang saya pendam selama hampir 12 tahun. Sesuatu yang sangat tidak mengenakkan. Saya harus berusaha tetap menjadi seorang anak yang baik dan seorang yang pendendam. Oh sejatinya saya telah membuat cover tersendiri dihadapan keluarga saya.

Menjadi orang yang dewasa sebelum waktunya adalah buah dari kesabaran dan rasa memendam amarah yang terlalu lama. Bagaimana figur seseorang yang sangat penting dikehidupan Anda, menjadi seseorang yang paling anda benci? Sebuah dosa yang sangat besar tentunya. Namun saya tetaplah manusia yang masih jauh dari Tuhan.

Pertengkaran, perkelahian, keributan, teriakan yang hampir setiap hari bahkan jam harus didengarkan secara ketidaksengajaan, adalah sebuah lagu wajib. Menjadi orang yang tidak terlibat dalam suatu perkara nampaknya adalah kemustahilan. Tidak tahu menahu soal masalah tersebut namun bisa jadi terseret. Bahkan ikut disalahkan. Menyebalkan bukan?


Pernahkah Anda berfikir? Psikis atau batin seseorang sangatlah unik. Berbeda-beda tergantung bagaimana perasaan dan telinganya. Mental yang dibangun dengan dihadapkan oleh hal-hal buruk seperti di atas, yang ada membuat otak seseorang menjadi rusak. Pemikiran yang mulai susah untuk diajak kompromi dan sebagainya.

Trauma tidaklah hanya dibangun dari peristiwa yang menyeramkan, menakutkan ataupun menyakitkan. Hal-hal sepele yang setiap hari mewarnai kehidupan dan menganggu batinpun bisa mengakibatkan adanya trauma. Merasa selalu disudutkan, dianggap tidak berguna, atau tiba-tiba disamakan dengan tokoh yang sedang disalahkan adalah sesuatu yang mengganggu. Siapa yang perasaannya tidak bergeming jika seperti itu?

Lelah, kesal, amarah, bahkan dendam mungkin mewarnainya. Sejatinya sangat manusiawi jika memiliki perasaan seperti itu. Hanya saja tergantung diri itu bisa mengontrolnya atau tidak. Akan ada orang yang sangat ekspresif dan ada pula yang apatis. Apatis dalam artian berusaha tidak peduli, masa bodoh, dan ingin berusaha menerimanya.



Lewat tulisan ini saya ingin berpesan.

Bagi siapaun yang merasakan hal-hal seperti yang saya ceritakan, kalian luar biasa. Apabila kalian mampu bertahan hingga sekarang. Sebuah dedikasi sebagai seorang anak yang sangat totalitas. Namun saya tahu, suatu saatpun kalian pasti akan merasa sangat lelah dan memilih untuk bersuara. Atau mungkin memilih untuk mengakhiri semuanya dengan cara kalian sendiri. Apapun itu, saya hanya bisa berdoa yang terbaik untuk kita semua. Dan ketika nanti kalian akan memiliki keluarga sendiri, buatlah keluarga kalian dengan pondasi yang kuat. Jangan buat anak kalian merasakan apa yang pernah kalian rasakan. Mereka tidak berhak menjadi korban atau pelampiasan. Simpan pengalaman buruk kalian sebagai kenangan. Jadikan itu pembelajaran. Kehidupan ini sangat beragam dan anda tidak akan sendirian.



Dan bagi “pelaku”.

Saya tahu, itu bisa jadi sesuatu yang turun temurun atau memang sebelumnya Anda di didik dengan ketegasan yang mungkin sangat keras. Tapi tolong ingatlah, orang di sekitar Anda yang lebih muda ataupun anak Anda, sudah berevolusi. Bukan seperti Anda di masa muda dulu. Jaman sudah berubah dan tingkat kepekaan atau kapasitas seseorang sudah berbeda. Jangan samaratkan itu. Dan tolonglah, Anda jangan membiasakan diri untuk mendewasakan orang sebelum waktunya. Instrospeksi diri lah. Apabila orang di sekitar Anda menjadi apatis atau menjauh, tidakkah itu dikarenakan Anda juga? Jadi, jangan selalu merasa ingin menang sendiri. Kasihan, orang itu tidak ingin seperti kalian. Dia pasti sangat ingin mendididik keluarganya (nanti) dengan lebih baik. Bukan dengan lengkingan setiap hari.



Dari saya, yang pernah merasakannya.

Komentar

Postingan Populer